Sabtu, 08 Agustus 2009

Cerita Julukan 'Si Burung Merak' untuk WS Rendra

Jakarta - 'Si Burung Merak', begitulah julukan penyair lintas generasi, Willibrordus Surendra Broto Rendra alias WS Rendra. Bagaimana kisah julukan Si Burung Merak itu muncul? Kisah ini bermula saat Rendra dan sahabatnya dari Australia berlibur di Kebun Binatang Gembiraloka, Yogyakarta.

"Waktu itu dia mengantar temannya dari Australia ke Yogya. Kemudian temannya itu diajak jalan-jalan ke Kebun Binatang Gembiraloka," cerita sahabat dekat Rendra, Edi Haryono, kepada detikcom, Jumat (7/8/2009).
Nah, saat tiba di kandang merak, Rendra melihat seekor merak jantan berbuntut indah sedang dikerubungi merak-merak betina. "Seperti itulah saya," tutur Edi mengulang ucapan Rendra. Kala itu Rendra memiliki dua istri yaitu Sunarti dan Sitoresmi.

Setelah kejadian tersebut, teman Rendra langsung cerita kepada teman-temannya. Berawal dari mulut ke mulut inilah akhirnya julukan Si Burung Merak melambung. "Temannya langsung cerita-cerita, Rendra kayak burung merak. Temannya di Yogya langsung menjuluki dia Si Burung Merak," ungkap Edi.

Edi, yang kenal WS Rendra sejak tahun 1974 ini mengaku, memang pribadi Rendra mirip dengan merak. "Dia orangnya suka pamer. Seperti burung merak jantan yang suka memamerkan bulu-bulu indahnya," cerita Edi.

Sebagai teman yang sangat dekat, Edi merasa sangat kehilangan. Dia menuturkan, semasa hidup Rendra adalah sosok yang sangat jenaka dan baik hati serta suka membantu teman yang kesusahan.

"Orangnya kocak, suka melucu, suka ngerjain teman-teman dekatnya. Tapi dia orang yang sangat teliti dan suka membantu teman-temannya," ujar pria yang hingga saat ini masih menjadi pengurus Bengkel Teater milik Rendra di Citayam, Depok, ini.

Dia pertama kali mendengar kabar meninggalnya Rendra dari asisten pribadi Rendra, Arifin. "Arifin ngasih tahu sambil nangis. Dia bilang Mas Willi wis ora ono (Mas Willi sudah tidak ada)," cerita Edi.

"Rencananya almarhum akan dimakamkan usai salat Jumat nanti," pungkas Edi.

Selamat jalan Si Burung Merak.
Sumber :http://www.detiknews.com

PUISI W.S.Rendra

Renungan Indah
W.S. Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini
hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya : mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua
"derita" adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :

aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh
dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".....

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by PKS Piyungan